Hakekat
Manusia dan Keutamaan Wanita
Oleh
: Arief Hidayat*
———————————————————————————————-
Tuhan
yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an, Dia
menciptakan manusia, Mengajarkannya pandai berbicara. (QS. Ar-Rahman:
1-4)
Makna
“manusia” dalam ayat diatas tidaklah terbatas pada jenis dan
golongan manusia tertentu, namun mencangkup seluruh jenis manusia,
baik pria maupun wanita. Tuhan yang Maha Pemurah adalah guru dengan
sifat kasih-Nya yang mendahului, dan manusia sebagai muridnya, empat
criteria dan tingkatan dari ayat diatas dimana manusia terdidik dalam
‘sekolah rahmat’ tersebut, maka dia akan menjadi manusia. Setelah
menjadi manusia, maka perkataannya akan menjadi jelas dan dapat
dijadikan sebagai penjelas. Oleh karena itu keempat kreteria diatas
adalah urutan yang tepat dan saling memiliki ketergantungan.
Al-Qur’an
hadir sebagai Kitab Suci untuk mensucikan rohaniah manusia. Jikalau
Al-Qur’an diturunkan untuk penyempurnaan Roh manusia maka tepatlah
bahwa tak ada batasan antara pria dan wanita dalam pencapaiaan
kesucian rohaniah manusia.
Hal
yang eksistensial pada diri manusia adalah roh. Pada ayat diatas
ditegaskan sebuah bahasa pengajaran dan pendidikan kepada roh,
pengajaran serta pendidikan ini sama sekali tidak terbatasi oleh pria
dan wanita karena keduanya memiliki predikat yang sama, tak ada roh
wanita dan tak ada roh pria. Pertama, pria dan wanita hanya
berkaitan dengan tubuh, bukan berkaitan dengan Roh, Kedua,
Pengajaran, pendidikan, bimbingan dan kesucian adalah berkaitan
dengan nafs (jiwa), Ketiga, nafs (Jiwa) bukan jasad dan
jasad bukan nafs. Dalam Al-Qur’an bahwa Roh yang menjadi
dasar bukan Raga, dan Roh bukan pria dan wanita.
Hakikat
Manusia Bukan Pria Bukan pula Wanita
Pemisahan antara yang memiliki makna nilai dan lawannya dicontohkan
didalam Al-Qur’an, Al-Qur’an yang mengibaratkan Ilmu sebagai
sebuah nilai dan kebodohan adalah lawan dari nilai, Iman sebagai
nilai dan kufur adalah lawannya, kehinaan dan kemulyaan, kebahagiaan
dengan kesengsaraan dan lain sebagainya. Kejujuran, kebaikan,
kebodohan, keberdasan, seorang pembohong dsb adalah sifat yang telah
menjelaskan bahwa selamanya sifat tersebut tidak memiliki jasad.
Dengan demikian bahwa yang memiliki nilai pada dasarnya adalah Roh
bukan pria maupun wanita. Tolak ukur yang mengidentifikasi
subyek-subyek penyandang nilai dan yang menentukan norma nilai,
membuktikan bahwa subjek dan predikat terlepas dari masalah gender
(antara pria dan wanita).
Ketika Islam menggambarkan bahwa pria dan wanita tidak berbeda dari
segi nilai, maka penciptaan manusia ketika Allah SWT berbicara
tentang Roh, Dia mengatakan, bahwa secara materi, maka dijadikanlah
makhluk, Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain.
Ia dijadikan makhluk yang lain setelah sempurna menjadi janin,
baik itu pria maupun wanita. Disinilah baru pembicaraan pria dan
wanita.
Tidak
ada Gender dalam kalam Ilahi
Pembahasan
akan nilai manusia tidaklah berpredikat pada maskulinisme ataupun
femenisme. Kandungan Al-Qur’an menyatakan bahwa rahasia
kesempurnaan manusia berada dibalik pengetahuan tentang Ideologi
ketuhanan atau bahwa alam ini dimulai dengan nama-nama Allah SWT yang
baik atau asma’ al-husna dan diakhiri dengan al-maad
yaitu kiamat, neraka surga dan seterusnya. Diantara permulaan dan
penghujung tersebut ada shiratul-Mustaqim.
Segala
sesuatu (selain Allah SWT) pastilah bermula dan berakhir. Oleh karena
itu pokok ajaran Islam adalah pengetahuan akan tiga hal : asal-usul
penciptaan, Hari akhirat dan kenabian. Imam Ali bin Abi Thalib kw
“Allah SWT akan memberi belas kasih kepada seseorang yang
mengetahui dari mana dirinya berasal, dia di mana sekarang dan akan
ke mana dia kelak ?”. pengetahuan ini tidaklah dibatasi kepada pria
atau wanita saja, namun pengetahuan ini adalah mutlak bagi setiap
manusia.
Allah SWT menyampaikan didalam Al-Qur’an tentang “manusia” bukan
berarti lawan dari kata wanita atau pria, Al-Qur’an selalu
menyebutkan secara umum. Dalam hal ini masalah keniscayaan akhirat
dan pertanggung jawaban apa yang kita lakukan Al-Qur’an
menyebutkannya bahwa setiap jiwa (nafs) bertanggung jawab atas
seluruh amal perbuatannya. Disebutkannya pula bahwa setiap manisia
(insan) akan menerima balasan di akhirat nanti.
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah
diperbuatnya. (QS. An-najm : 39-41)
Intinya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Ilmu dan amal
yang disebutkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah menunjukkan jenis
kelamin.
Perhatian Al-Qur’an terhadap Wanita
Al-Qur’an mengelompokkan kekuatan yang terdapat dalam diri
manusi menjadi tiga jenis bagian, yaitu daya tarik, daya tolak dan
daya pikir. Adapun perangkat akal dan kebodohan yang seluruhnya
merupakan kekuatan roh jumlah seluruhnya ada seratus lima puluh
perangkat (jumlah tersebut merupakan sebagai contoh dan penggambaran,
bukan sebagai penentuan). Tujuh puluh lima jumlah perangkat akal dan
tujuh puluh lima jumlah perangkat kebodohan. Sebagian yang lain
berkaitan dengan daya tarik, atau yang biasa disebut dengan kekuatan
syahwat. Adapun sebagian yang lainnya berkaitan dengan daya tolak,
yang dikenal dengan kekuatan amarah.
Setiap yang kita rasakan dalam diri kita tidak terlepas dari ketiga
kekuatan tersebut yang menjadi pondasi dasar manusia, ketiga pondasi
tersebut adalah merupakan kebijakan manusia dapat mengendalikan
kekuatan tersebut dan memfungsikannya secara proposional.
Kita mengetahui bahwa keutamaan dan kemuliaan manusia telah
dijelaskan didalam Al-Qur’an secara rinci. Seperti dalam Kalam Ilahi
Kemudian Adam menerima kalimat dari Tuhannya (QS. al-Baqarah :
37). Diriwayatkan bahwa kata kalimat pada ayat tersebut adalah
cahaya orang-orang yang disucikan
oleh Allah SWT. Kata kalimat ini juga dimaksudkan pada ayat
ini adalah beberapa maqam ilmu yang diperoleh Adam as, yang menjadi
sebab kesusesannya. Kata kalimat pada ayat tersebut adalah
nama-nama Tuhan (al-Asma’ al-Ilahiyah), dan perwujudan yang
paling nyata dari nama Tuhan tersebut adalah manusia yang sempurna.
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu
dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang
Jahiliyah yang dahulu
dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan
Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa
dari kamu, Hai ahlul bait
dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS al-Ahzab : 33)
Saat menerangkan tentang daya tarik dan
memperkenalkan sifat ‘afaf (menjauhkan diri dari hal yang
buruk) Al-Qur’an memberikan contoh kesucian pria dan wanita.
Hal ini dapat kita lihat pada Al-Qur’an dimana Doa Ibu maryam (QS.
Ali Imran : 35-37) yang dikabulkan doanya oleh Allah SWT dengan
memasrah totalkan dirinya kepada Allh SWT, Ibunda Musa as,
Saudarinya, dan Isteri Fir’aun ketiga wanita tersebut menciptakan
kondisi yang memungkinkan untuk mematangkan dan mendidik Musa as,
sehingga selamat dari kezaliman Fir’aun. Ini jelas di beritakan
dalam Al-Qur’an pada (al-Qashash : 7,9,11).
Manusia salih adalah teladan bagi seluruh manusia. Seorang pria
teladan adalah contoh bagi seluruh manusia bukan hanya untuk pria
saja. Begitu pula wanita teladan adalah contoh yang harus diikuti
seluruh manusia, bukan hanya untuk wanita saja.
Wanita dalam Irfan
Adam as adalah khalifah,
utusan Allah SWT dimuka bumi. Telah kita ketahui bahwa Adam
mendapatkan kalimat yang mengangkat derajatnya dan
menyempurnakan kemanusiaannya. Hadirnya khalifah dimuka bumi adalah
representasi dai Wujud Allah yang tidak pernah mengalami
ketidakhadiran.
Manusia sempurna adalah tanda kebesaran Allah SWT. dia adalah
manifestasi dari sifat-Nya, Yang Zhahir pada sekian banyak
fenomena alam di dunia ini serta manifestasi dari sifat-Nya Yang
Batin di alam roh. Keberadaannya hadir bersama roh dan jasad.
Berkenan dengan hal ini Imam Ali kw berkata “Ya, Allah, Engkau
teman dalam perjalanan dan Engkaulah khalifah dalam keluarga, tidak
ada yang dapat mempersatukan keduanya selain Engkau, karena yang
menemani, tidak akan dapat dijadikan khalifah, dan yang dijadikan
khalifah tidak akan dapat menemani”
demikianlah kedekatan seorang hamba kepada Allah, maka ia akan
menjadi tanda-tanda kebesaran Allah.
Pertanyaan yang lain berkaitan dengan masalah ini adalah, jika
menusia adalah khalifah Allah dan kemanusiaan terlepas dari masalah
jenis kelamin pria dan wanita, namun mengapa yang sampai pada
tingkatan tersebut kebanyakkan adalah pria ?, sementara wanita yang
sampai pada tingkatan itu hanya empat orang saja ?. jawaban atas ini
adalah :
Pertama, banyak wanita yang telah sampai pada tingkatan
tersebut namun prestasi mereka tidak direkam oleh sejarah
Kedua, penyebutan empat wanita diatas tidak menunjukkan
adanya pembatasan bagi yang lainnya.
Ketiga, jika sebuah masyarakat memiliki kematangan niscaya
seluruh anggotanya dari kedua kelompok pria dan wanita akan berupaya
menciptakan sebab-sebab kemajuan dan kejayaan mereka. Ataupun
sebaliknya.
Ikatan jasad dan roh serta Kesempurnaan wanita
Permasalahan yang lain ialah, dikatakan otak wanita jauh
lebih kecil ketimbang otak pria. Atas dasar daya pikir kaum pria jauh
lebih kuat ketimbang wanita, kelemahan pada diri wanita mengakibatkan
kelemahan pada daya pikirnya.
Penjelasan tersebut pada awalnya memang terlihat sempurna. Namun
setelah mengkajinya lebih teliti, bahwa sekalipun pada diri manusia
terdapat jasad dan roh, namun jasadlah yang dikontrol oleh roh,
jasadlah yang terikat dengan roh. Jasad tak dapat membangun roh, tapi
sebaliknya rohlah yang membangun jasad. Semakin kuatnya roh seseorang
akan melahirkan alat yang kuat pula.
Menurut para pakar sastra dan irfan, jasad adalah ibarat sebuah
kolam yang berada di tengah sungai yang mengalir; apabila di hadapan
rumah seseorang ada sebuah sungai yang mengalir, kemudian pemilik
rumah itu membuat sebuah kolam di tengah-tengah sungai tersebut, lalu
dia mengalirkan air sungai itu dari sebuah lubang yang lainnya, maka
kolam tersebut pasti akan selalu penuh dengan air. Namun pemilik
rumah yang berpikir sederhana akan menganggap bahwa air yang mengalir
disungai itu adalah air yang telah ada di dalam kolam tersebut selama
beberapa hari atau beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun yang
lalu, dan dia beranggapan bahwa air yang ada di kolam itu setiap saat
akan selalu berubah.
Ibarat kita sementara melihat gambaran bulan serta wajah kita di air
sungai yang mengalir lantas kita mengira bahwa gambaran di air sungai
yang mengalir tersebut tidak berubah, pada dasarnya gambaran itu
berubah namun karena perubahan tersebut begitu bertahap dan demikian
lembut. Demikian dengan anggota tubuh kita, sebenarnya setiap saat
dia berubah.
Kekuatan manusia bukan hanya berasal dari jasadnya, seperti pada
kisah Roh manusia dan peristiwa khaibar. Ash-Shaduq dalam Amali-nya,
demikian pula ath-Thusi, juga para ulama hadis dan hikmah,
meriwayatkan bahwa setelah imam Ali bin Abi Thalib as mengangkat
pintu benteng Khaibar dan melemparkannya hingga jauh, dia berkata,
“Aku mencabut pintu khaibar dan melemparkannya ke belakang
punggungku hingga sejauh empat puluh hasta bukan karena kekuatan
fisik atau gerakan karena pengaruh makanan, namun diriku telah
dikuatkan dengankekuatan malakut dan dengan kekuatan jiwa yang
diterangi oleh cahaya Tuhan yang bersinar.”
Kesempurnaan seseorang tidak harus dikaitkan dengan kemampuan
teoritik. Aktivitas manusia terbagi menjadi dua macam; aktivitas
berat yang diperuntukkan kaum pria, dan kedua adalah aktivitas yang
lembut untuk kaum wanita. Demikian pula halnya dengan nama-nama-Nya
yang agung dan nama-nama-Nya yang lembut.
Manusia memperoleh kesempurnaan dari dua jalan, sebagian mendapatkan
kesempurnaan dari berperang,
dan sebagian yang lainnya mendapatkan kesempurnaan dari cinta, belas
kasih, perasaan dan dengan keindahan dan sifat lemah lembut Allah
SWT. Seorang pria memiliki daya nalar dan daya pikir yang kuat serta
ketangguhan fisik, namun tak dapat dijadikan ukuran kekuatan pria
dalam hal cinta, kelembutan hati, serta ketulusan. Dan terkadang
potensi kelemah lembutan lebih menonjolkan kesan prestasi ketimbang
kekuatan fisik.
Seorang perempuan akan jauh lebih memahami lantunan doa-doa yang
bermakna arif dan cinta yang biasanya didapatkan dalam munajat dan
doa Imam Zainal Abidin ini di karenakan potensi yang berada pada diri
wanita adalah manifestasi kelembutan yang berasal dari sifat jamaliah
Allah, lain halnya dengan pria ia akan lebih mudah memahami lantunan
doa yang bersifat kekuatan perang, dan perlindungan.
Pelajaran cinta yang lebih banyak diperoleh wanita mengajarkan
tentang manfaat bagi orang-orang yang hatinya keras dan yang selalu
menunjukkan sikap keras. Jika orang dapat menjadikan hatinya semakin
lembut, maka perlajaran cinta akan lebih berpengaruh baginya, manusia
yang tidak mudah menangis, peluangnya sedikit dalam memperoleh
pelajaran cinta. Sebaliknya, orang yang mudah mengis tentu hatinya
lebih lembut. Jika ia dapat memisahkan antara emosi ‘hewani’ dari
cinta manusiawi, dan masik pada wilayah cinta. Serta mampu mengusir
kelemahan pada jiwanya dengan menjadikan kasih saying sebagai cirri
utamanya, maka pada saat itu terbukalah kesempatan baginya untuk
megejawantahkan nama-nama Tuhan sebagai manifestasi kelembutan yang
Allah miliki.